BLING BLING.....

Arjan Onderdenwijngaard 2010-2015

 

Instalasi ini terdiri dari lima karya, yaitu alat bantuan untuk pasangan seniman Arjan Onderdenwijngaard saat dia sakit kronis, yang seluruhnya dihiasi dengan strip obat-obatan kosong: mobil, tongat-jalan, skuter, becak dan kata HELP.

 

scootmobiel-test

 

Pikiran yang melandasi instalasi:

Pada satu sisi ada semacam keluhan atas manusia bling-bling jaman ini, yang setelah mengalami evolusi bermilenium-milenium terbentuk hanya menjadi manusia yang berfokus pada kemasan, status dan memiliki minat yang dangkal. Manusia yang hanya berani memperlihatkan sisi luarnya yang tersepuh emas. Dunia seolah-olah dibuat untuk dapat dijalani. Sementara batin tersia-siakan dalam interaksi sehari-hari.

rappeurs-bling-bling

Bahwa tak semua orang bahagia dengan hidupnya, tekanan untuk berprestasi yang sifatnya terus-menerus, dan tuntutan untuk memenuhi hidup bermasyarakat, terlihat dari meningkatnya jumlah pasien yang menelan obat-obatan psiko-farmasi untuk menopang tubuh dan jiwanya dalam masyarakat jaman ini.

Bling-bling adalah sebuah fakta berwujud tumpukan strip kosong obat-obatan yang ditinggalkan oleh orang-orang difabel dan sakit di dalam masyarakat ini.

Arjan D IND 16 Oktober 2013 052 - kopie

Tongkat, kursi roda, skuter atau becak untuk orang sakit di dalam masyarakat kita, yang menggantikan kaki atau mobil bagi yang lebih tak mampu secara fisik: tiket mereka untuk kemandirian dan kebebasan personal, dan merupakan satu-satunya cara untuk tetap dapat disertakan dalam kehidupan.

Sementara itu di sisi lain seri ‘Bling Bling..’ menyajikan komentar atas masyarakat ini, yang berhias, yang menampilkan orang-orang dan segalanya atas nilai ekonomi dan karenanya bisa dan harus dieksploitasi. Segalanya dibuat menyenangkan, dihias, dikemas dalam kemasan sekali pakai, hampir tak berisi. Asalkan terlihat menarik.

Bling Bling mercedes gepimpt met swarovski kristal

Sebuah obyek yang menarik untuk dihias adalah Sapi Emas; mobil kami.

Siapapun yang tak dapat mengimbangi ataupun tak puas dengan prestasinya, dan tak memiliki apapun atau siapapun untuk ‘dihias’ akan menghias dirinya dengan operasi plastik atau dengan obat-obatan untuk menenangkan dorongan rasa lapar untuk menjadi yang lebih, yang lebih muda, lebih cantik, lebih baru, lebih baik, lebih cepat.

images

Sebuah makna lain dari ‘berhias’, dalam kasus ini, adalah fakta bahwa sesama kita yang menderita sakit sering kali ‘dihias’ dengan obat-obatan. Bukannya mencermati kemungkinan penyebab sakit atau mengubah pola hidup, perang terhadap gejala sakit; menulis resep dan menggunakan obat-obatan, menjadi pemecahan paling sederhana dari masalah ini. Karena hal ini pasien dan masyarakat dibebaskan dari kewajiban untuk mendalami dengan serius kondisi pasien dan penyebab atau latar belakang sakit dan penderitaannya. Melalui internet setiap orang menjadi dokter bagi dirinya sendiri. Ada banyak apotik virtual yang menyediakan obat-obatan yang diinginkan. Industri farmasi, seperti halnya semua industri lainnya, berpusat pada masalah omzet dan saham. Mereka juga turut bermain. Sakit di Indonesia sering berarti mati atau miskin karena kebanyakan penduduk tidak mampu membayar asuransi kesehatan.

download

1.   Bling Bling, 3 tahun menelan…  sebuah mobil barang berhias yang dikondisikan untuk penderita cacat (musim panas 2010)

Bling Bling three years of swallowing Car Art Festival Delft 3en 4 september 2011

 

2.   Bling Bling, 12 tahun setapak demi setapak… sebuah tongkat-jalan yang dihias (musim semi 2011)

Arjan D NL 2 mei  2012 035 - kopie

 

3.   Bling Bling, 11 tahun roda untuk berjalan… sebuah skuter yang dihias (musim panas 2012)

Bling Bling 3

 

4.   Bling Bling, 2 kunjungan kembali ke akar… sebuah becak yang dihias (Indonesia, musim gugur 2013)

Sido Dadi sudah jadi

 

5.   Bling Bling, sebuah jeritan… kata HELP dalam huruf-huruf besar berhias (musim panas 2014)

 

 

BLING BLING ARJAN: CLING!

Oleh: Krisna Murti

BLING BLING adalah seri proyek seni Arjan Onderdenwijngaard, berujud modifikasi mobil, tongkat bantu jalan, skuter rawat (scootmobil) dan becak. Wikipedia mengartikan kata “bling” sebagai “bunyi” ketika sinar menerpa sebuah perhiasan: cling! Ya “cling”, anda masih ingat visualisasi – dan dengar - reklame di TV, menggambarkan perabot dapur mengilap setelah dicuci sabun merek tertentu, atau gigi bersinar setelah memakai pasta gigi. Sebab itu, “bling” semestinya bisa diterjemahkan pula sebagai gemerlap. Gemerlap tentu terkait dengan (barang) tampak luar, kulit, wujud fisik dan permukaan, bukan sebaliknya menggambarkan inti, konten maupun substansi. Hidup ini sejatinya terdiri dari dua komponen itu, namun menjadi “bling” ketika materialisme dan hedonisme dirayakan, apalagi dimediasi , dikonstruksikan dan direproduksi  oleh media (TV). Dari sinilah Arjan memperkarakannya.

Arjan Onderdenwijngaard melihat dunia hari ini: “bling”, dan itu menjadi  realitas sekaligus mitos yang dipercayai masyarakat. “Bling” menjadi tujuan – bahkan ideologi, sistem kepercayaan (kalau tidak bisa disebut agama) – sekurangnya gaya hidup (mainstream culture). Bila anda tidak menjadi bagian “bling” seolah anda tidak trendy, tidak gaul! Bila anda tidak memakai mobil gres, gadget terkini atau makan di café amrik, anda tidak “bling”! Yang serba “bling” tentu bukan perkara barang, tapi juga tubuh (operasi wajah), juga berbahasa – ingat Vickisisasi ? Arjan dalam “BLING BLING” justru menyadarkan kita lebih jauh.  Dari pengalaman pribadinya merawat Theo Wilton van Reede, sastrawan diaspora (Indonesia-Belanda) selama 12 tahun hingga wafatnya, ia menjadi faham bahwa sistem kedokteran modern yang  mengobati symptom – bukan holistik – memicu ketergantungan pada produk obat, dan itu sebuah solusi instan, seperti anda lapar maka makan junk food. Konsumerisme menjadi keniscayaan, dan korporasi – obat (atau junk food )– itu memang memberi kenyamanan ( termasuk pereda sakit/kenyang sementara) bahkan acapkali memberi gengsi: status sosial yang terhormat. Tentu ini godaan yang seksi yang tidak bisa ditolak. Padahal dampak lain menyertai – di samping ketagihan – meracuni sistem (organ) tubuh. Dan itulah absurditas BLING BLING yang coba diungkapkan Arjan melalui instalasi yang seluruhnya dipenuhi cangkang plastik tablet, bekas konsumsi obat Theo semasa perawatan sakit jantung, lalu komplikasinya.

Instalasi BLING BLING direalisasikan Arjan dengan pendekatan naratif. Itu diakuinya melalui surel  19 Januari 2014:“Aku pencerita, karyaku adalah cerita, adalah buah dari pelajaran dan pengalaman hidupku yang aku bagi (…) dengan seni, dengan emosi dan individu”. Arjan memiliki pengalaman  yang cukup panjang dan lengkap: sebagai pembuat film dokumenter, fotografer, pembuat program radio dan TV di Belanda dan pemusik. Komunikasi yang intens dengan sastrawan Theo, juga pergaulan sosial dan profesional dengan tokoh sastra seperti Rendra, Pramoedya, Umar Kayam hingga Mangunwijaya, semuanya bukan saja memperkuat wawasan Arjan, tetapi pendekatan literer itulah yang kemudian agaknya mengispirasi Arjan menggarap seri “BLING BLING”.  Secara visual kita masih bisa mengenali bentuk asli becak, mobil, skuter rawat, tetapi bila kita mendekati objeknya dan memperhatikan teks: “Sido Dadi”, menyidik nama/merek obat, kita seperti membaca berbagai metafora layaknya puisi, dan kita mengimajinasikannya dalam lompatan-lompatan tanda. Di saat yang sama, tanda-tanda mengalir sebagaimana sebuah prosa yang penuh kisah dan dramatikanya.  Wahana transportasi pragmatis yang diciptakan sebagai solusi pergerakan manusia oleh Arjan lalu ditranslasikan menjadi “instalasi kisah sastrawi” yang kongkrit dan hadir. Ketika instalasi “BLING BLING” itu hadir, artinya ia hadir dalam ruang, waktu dan publik di mana karya itu dipamerkan. Audiens tidak lagi sekadar ‘pembaca’ yang menghubungkan kata demi kata beserta makna simboliknya tetapi, tetapi bisa menggeser dirinya sebagai penonton atau pelibat (partisipan) yang bisa mengelilingi instalasi-instalasi tersebut. Jadilah sebuah konsep seni:  mengalami, partisipatif.

Kelebihan Arjan adalah pengalaman hidupnya dan dia bisa mengungkapkan tanpa menyembunyikan di relung-relung yang bersifat  pribadi dan itu sekaligus menegaskan pentingnya sisi emosi.  Itulah berkah otodidak Arjan. Ia justru terhindar dari merasionalisasikan seni terlalu jauh sehingga seni berisiko  dijalani (dipercayai) sebagai sebuah solusi, formalistik. Sebaliknya kecenderungan eksperimentasi dan berbasis riset  Arjan – lihat juga Sharing A History, yang sudah dipamerkan di Yogyakarta (Ars Longa, 2011), Semarang (Universitas Soegiapranata 2012), Jakarta (Erasmus Huis dan UI, 2013), juga di Belanda –  menunjukkan  betapa ia jelas mempraktikkan pula  prosedur akademis.  Bahkan hal itu seperti sejalan dengan kecenderungan pendekatan kontemporer hari ini di manapun di dunia.

Instalasi interaktif Sharing A History, sesungguhnya berupa kumpulan ribuan kata Belanda yang diserap oleh bahasa Indonesia. Melalui workshop, Arjan memanfaatkan proses komunikasi partisipatif  dengan publik –  mahasiswa - untuk menyadarkan  bahwa konsep  nasionalitas sesungguhnya adalah sebuah kultur adaptasi, toleransi, bukan agresi. Melalui fakta lapangan, Arjan seperti mempromosikan  keterbukaan budaya. Arjan mengajak publik “coba mengerti budaya lain, coba netral, tak menerima sebagai ‘takdir’ (apa adanya)”. Di sinilah posisi kultural Arjan.

Mengamati  “BLING BLING” maupun yang lainnya, tampak bahwa Arjan selalu memulainya dengan pengalaman yang intimate, sebuah proses emosional, yang kemudian diterjemahkan lebih terperinci melalui serangkaian riset. Dengan kecerdikannya, pengalaman personal itu lalu dirubah menjadi tema yang menyangkut persoalan kultur kita, kekitaan. Ini seperti mulai dari sebuah ‘diary’ lalu digeser menjadi ‘puisi cinta’, pruduk seni dimana publik bisa larut di dalamnya sekaligus sebagai pengalaman intelektual yang mencerahkan. Bling bling, cling!

Krisna Murti, seniman dan pengajar tamu kajian media baru pasca sarjana ISI Yogyakarta.